Peranan bahasa Indonesia sangatlah penting dalam kehidupan kita sehari-hari Bahasa merupakan alat pemersatu komunikasi antara manusia. Namun dalam kesempatan ini membicarakan mengenai peranan bahasa indonesia dalam konsep ilmiah. dalam konsep ilmiah peranannya sangatlah penting untuk penulisan sebuah ilmiah mulai dari ejaan yang disempurnakan, pemakaian huruf, pemakaian huruf capital dan huruf miring,penulisan kata, penulisan unsur serapan, pemakaian tanda baca. Dan ejaan yang benar. Ejaan ialah penggambaran bunyi bahasa dalam kaidah tulis- menulis yang distandarisasikan; yang meliputi pemakaian huruf, penulisan huruf, penulisan kata, penulisan unsur serapan, dan pemakaian tanda baca. Bahasa Indonesia sering digunakan dalam pembuatan penulisan ilmiah. Adapun arti dari penulisan ilmiah ialah merupakan suatu tulisan yang sifatnya benar atau sesuai dengan kenyataan yang ada dan biasanya berisi tentang suatu penerapan ilmu tertentu. penulisan ilmiah harus sesuai dengan metodologi Bagian-bagian penulisan ilmiah meliputi, kelengkapan awal, kelengkapan isi, dan kelengakapan akhir. Kelengkapan awal meliputi kulit luar, halaman judul, halaman pengesahan, halaman penerimaan (jika ada), halaman persembahan, abstrak, (dalam bahasa Indonesia dan Inggris), kata pengantar, daftar tabel, daftar grafik, atau gambar (jika ada). Kelengkapan isi meliputi pendahuluan, kajian teori, seputar lokasi objek penelitian (khusus praktik kerja), pembahasan, dan penututp. Kelengkapan akhir meliputi daftar pustaka, riwayat hidup penulis, lampiran data, dan penulisan indeks. Didalam suatu penulisan ilmiah t erdapat beberapa pengutipan terhadap bebrapa pendapat ahli. Pada akhir suatu penulisan ilmiah harus disertakan sumber-sumber data yang diperoleh baik dari media cetak, internet, dan sebagainya. Sebagai kesimpulan.,yang dimaksud dengan bahasa yang benar adalah bahasa yang menerapkan kaidah dengan konsisten , sedangkan yang dimaksud dengan bahasa yang baik adalah bahasa yang memiliki nilai rasa yang tepat dan sesuai dengan situasi pemakaiannya.
Senin, 26 Oktober 2009
Rabu, 14 Oktober 2009
KONTROVERSI MIYABI..
Mau tau petikkan cerita selama berlangsungnya promosi ide film Si Penulis Muda kepada direktur PH tersebut?? Nih petikkannya :
Penulis Muda (PM) : Selamat siang..Apakah Anda direktur PH "Nama_PH" ini??
Direktur PH(DPH) : Ya benar..Ada keperluan apa Anda ingin bertemu dengan saya?? Tunggu dulu, ehhmmm sepertinya wajah Anda tak asing saya lihat, Anda penulis muda berbakat itu bukan?? Raaaa...( Sang Direktur agak lupa namanya )
PM : ( si PM langsung memotong dan mengingatkan)
Yaph,perkenalkan nama saya "(Inisialnya : RD)" Pak..
DPH : Oh ya benar,Anda Saudara RD, penulis buku dan film..(bla bla bla, tak usah disebutkan ya sudah pada tau juga kan). Haha selamat datang di kantor Kami. Ada yang bisa saya bantu??
PM : Begini Pak, saya ingin mengajukan suatu film menarik yang mengalir dari otak saya dan saya yakin bahwa film ini kelak akan booming.
DPH : Boleh saya lihat tuangan ide (naskah) film Anda ??
PM : Oh ya silahkan..
DPH : Hmmmm.. cukup menarik, tapi apa yang membuat Anda begitu yakin kalau film karya Anda ini bakalan booming??
PM : Saya sangat yakin film ini akan booming karena saya melihat tren di dunia perfilman saat ini, film-film remaja sangat diminati dan dilihat dari jumlah penonton kebanyakan yang sebagian besar adalah para remaja.
DPH : Oh ya OK tapi selain faktor yang Anda sebutkan tadi, ada hal lain yang memang benar-benar membuat Anda sangat yakin bahwa film yang Anda buat ini akan booming?? Dalam arti faktor yang lain daripada yang lain mungkin??
PM : Oh ya satu hal lagi dan ini mungkin ini yang sangat menyebabkan film ini akan booming yaitu dari segi pemeran filmnya. Dari segi peran akan di perankan oleh saya langsung karena saya merasa mempunyai unsur kedekatan dengan kaum remaja pada umumya. Dan juga selain peran yang saya mainkan langsung, saya ingin pasangan peran saya dalam film kali ini adalah seorang artis yang fenomenal dan bukan artis dalam negeri.
DPH : Kalalu boleh tahu siapa artis fenomenal itu yang ingin Anda paketkan dalam pasangan peran dari film Anda ini??
PM : Maria Ozawa atau dikenal dengan nama Miyabi.
DPH : ( Sedikit tercengang )
Oh ya ??! Bukankah dia bintang panas/porno asal Jepang yang sangat kesohor di dunia atau paling sedikit se-Asia dan wajahnya juga tak asing lagi kita lihat terutama bagi kaum-kaum yang menyukai film-film panasnya dan itu tak sedikit justru banyak "penggemarnya".. Mengapa Anda memilih Miyabi??
PM : Yaph benar Anda juga sudah tahu bukan siapa Miyabi. Dia memang bintang porno asal Jepang yang namanya sudah tak asing lagi kita dengar, siapa coba yang tak kenal dia? Kebanyakan orang atau lebih tepatnya kaum muda/remaja bahkan dewasa pasti sudah mengenal Miyabi baik dari filmnya atau internet, atau paling tidak mereka hanya tahu dari nama saja dan pekerjaanya meskipun tak mengenal wajahnya, dalam arti pernah mendengar namanya. Dalam film saya ini, dia tidak akan bermain dalam adegan panas atau porno karena saya tahu hal seperti ini di Indonesia akan menuai protes, kecaman, bahkan kontroversi. Miyabi akan mengambil peran sebagai tokoh utama, kesan seksi terhadap dirinya pasti akan sangat menjual sehingga para penonton pasti akan penasaran akan akting si Miyabi ini. Dan inilah yang sangat ditunggu-tunggu, rasa penasaran penonton terhadap akting dia yang akan membuat film ini meledak di pasar perfilman. Dan saya rasa ini untuk pertama kalinya dalam dunia perfilman, dimana pemeran utama dalam film adalah artis luar negeri. Ehhhm..tentang bagaimana cara mengusahakan Miyabi agar datang ke Indonesia, saya rasa itu bukan perkara sulit karena dia datang ke sini toh bukan untuk memerankan film dewasa/porno, hanya untuk memerankan film karya saya merupakan tontonan umum khususnya kaum remaja.
DPH : (Sang Direktur PH tertegun sejenak, mempertimbangkan matang-matang, dan segera mengambil keputusan yang tepat tentang ide Si Penulis Muda ini alias Raditya Dika. Akhirnya keputusan itu keluar....)
Setelah mendengar segala ide maupun penjelasan mengenai film Anda ini, mohon maaf kalau saya tidak bisa menerima proposal/naskah film yang Anda buat.
PM : Ta..tapi mengapa?
DPH : Ada hal yang sangat mengganjal saya dalam pembuatan atau bahkan sebelum pembuatan film ini nantinya. Jujur, saya sebagai seorang Muslim yang sudah sangat lama berkecimpung di dunia perfilman, sangat menjaga etika dan moral yang berlaku dalam masyarakat. Saya melihat unsur yang dijual dalam film ini adalah hanya dari sisi peran si Miyabi tersebut. Dengan segala ketenarannya dalam dunia sex, saya tahu bahwa film ini akan menuai keuntungan yang besar. Namun, bukan keuntungan yang saya cari dalam mengeluarkan suatu film kepada masyarakat atau lebih tepatnya penonton. Saya lebih memprioritaskan tentang manfaat dari suatu film kepada para penonton sehingga melalui film akan terbentuk "simbiosis mutualisme" atau dalam arti pesan moral yang akan menjadikan penonton menjalani kehidupan yang lebih baik dan untuk para pekerja di belakang layar film juga mendapatkan keuntungan karena unsur manfaat atau pesan moral atau lebih tepatnya lagi unsur dakwah dalam film yang disajikan dapat tersalurkan kepada para penonton. Manfaat ini bukan manfaat kesenangan/sesaat semata tetapi manfaat jangka panjang. Seperti dalam film Ayat-Ayat Cinta, pesan moral yang tersirat adalah bagaimana kita menghargai poligami yang berlaku dalam masyarakat dan bagaimana caranya kita berlaku adil terhadap istri kita. Dan memang saat peluncuran film itu, poligami merupakan suatu hal yang "kurang bisa" diterima oleh masyarakat dan menimbulkan suatu kontroversi. Dan satu hal lagi, saya merasa bersalah atau bahkan hina jika mendatangkan Miyabi ke Indonesia. Kenapa saya katakan sampai seperti itu?? Saya berani mengatakan itu karena melihat kondisi bangsa ini yang sedang ditimpa banyak musibah di berbagai daerah seperti di Tasikmalaya,Bali dan saat ini di Padang yang memakan korban jiwa yang sangat banyak, dimana para korban bencana sangat membutuhkan uluran tangan atau bantuan kita secepatnya, kita malahan mengeluarkan biaya yang sangat besar bukan untuk membantu para korban tetapi untuk mendatangkan seorang artis yang notabene-nya adalah seorang artis yang dikenal karena ke-erotisannya dan perzinahannya secara terang-terangan : Maria Ozawa. Mau di taruh di mana muka saya, dan di mana hati nurani kita?? Yang ada malah kita dimurkai oleh Allah,naudzubillahmindzalik. Meskipun kedatangannya bukan untuk berakting dalam film porno tetapi bukankah kita seharusnya meninggalkan hal-hal yang berbau atau lebih tepatnya mendekati zina bagaimanapun bentuknya selama orang yang bersangkutan belum menyatakan bertaubat dari perbuatannya. Bagi saya sebagai direktur PH, dunia film adalah dunia dakwah dimana kebenaran mesti kita tegakkan dimana saja terutama untuk bangsa ini dan yang terpenting bagi saya adalah berusaha memberikan tontonan yang menarik sekaligus bermakna bagi para pecinta film tanah air khususnya, jangan sampai gaya hidup bangsa ini hancur gara-gara sebuah film yang non-makna. Itulah hal-hal yang membuat saya memberikan keputusan tegas untuk mohon maaf..menolak proposal/ide film Anda.
PM : ( Sang Penulis Muda terbengong-bengong mendengar penjelasan DPH, seakan-akan tidak percaya kalau ide cemerlangnya itu dengan tegas di tolak..)
Ehmm..ehmm..ba..ba..baiklah penjelasan maupun keputusan Bapak sangat saya hargai dan saya juga mohon maaf jika ide saya ini bertentangan dengan prinsip hidup Bapak. Saya ucapkan terimakasih Bapak telah meluangkan waktunya untuk "mengobrol" dengan saya (sambil berjabatan tangan). Si penulis muda terkenal itu pun akhirnya keluar dari kantor PH tersebut dengan perasaan "agak" kecewa.
Hal itu tidak menyurutkan Si Penulis Muda untuk terus mengajukan ide filmnya itu ke PH lain. Berharap agar ada salah satu PH yang mau menerima idenya. Singkat cerita ternyata ada salah satu PH yang menerima idenya si penulis muda ini alias "RD" beserta paket Miyabi-nya. Namun, sebelum pembuatan film itu berlangsung, kotroversi langsung berkembang di masyarakat dan semakin menyebar luas. Kontroversi itu muncul tak lain dan tak bukan karena pemilihan Miyabi, yang terkenal dengan film pornonya, ikut terlibat dalam pembuatan sekaligus peran di film tersebut. Ada yang menolak terutama kaum agamais, ada yang mendukung kebanyakan dari kalangan artis sendiri, ada yang cuek saja, dan lain sebagainya. Entah apa yang ada di benak si "RD" dan juga pihak PH yang membuat dan menyetujui film itu yang pasti "ada udang di balik batu".
Saya harap pikiran para pembaca sama dengan prinsip hidup Sang Direktur PH terkenal tadi, untuk :
"MENOLAK FILM ITU (SELAMA MIYABI TERLIBAT DALAM PEMBUATAN FILM ITU) DAN MENOLAK KEDATANGAN MIYABI KE INDONESIA !!"
Jika film itu sampai beredar di Indonesia dengan pemeran Miyabi pula, tunggu saja murka dari ALLAH, dan bukan tidak mungkin bencana besar akan melanda IndonesiA kembali.
"SAY NO TO MIYABI"..
Minggu, 11 Oktober 2009
Wong Fei Hung Ternyata Ulama dan Pendekar Sekaligus Tabib
Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.
Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.
Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.
Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.
Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.
Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.
Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.
Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.
Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.
Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.
Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin. (kaskus.us--sabili.co.id)
Tak kenal maka tak sayang..
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yg telah mencurahkan rahmat,karunia serta hidayah-Nya kepada kita sehingga sampai saat ini kita masih diberikan kekuatan,kesehatan,dan Insya Allah ke istiqomahan dalam menjalankan segal perintah-Nya. Shalawat serta salam tak lupa kita curahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW beserta keluarga,sahabat, dan para pengikutnya yang Insya Allah istiqomah hingga akhir zaman.
Sebelumnya, saya ingin mengucapkan selamat datang kepada teman-teman yang telah mengunjungi blog yang baru saya dibuat ini, meskipun saya tahu blog ini mungkin hanya di kunjungi segelintir orang saja atau bahkan tidak sama sekali(mudah-mudahan saja enggak hhe). Meskipun baru berkecimpung di dunia blog, saya merasa tertantang untuk menindaklanjuti blog yang baru saya buat ini menjadi blog yang layak dikunjungi dalam arti bermanfaat bagi teman-teman semua. Blog ini memang dibuat awalnya hanya untuk mem-posting tugas-tugas kuliah saya. Tapi apabila tugas kuliah saya sudah selesai dan dosen saya tidak lagi memberikan tugas mata kuliah,mau dikemanain nih blog atuh?? Kan sayang jadi terbengkalai. Nah makannya saya tidak mau kalau sampai blog saya ini terbengkalai, blog saya harus tetap survive( menggebu-gebu nih ceritanya,hhe). Selama ini,terus terang ( curhat dikit yaa..hhe) selama ber-ngenet ria alias browsing, situs yang paling sering dibuka : Facebook(FB). Kalo buka FB nih kerjaannya : bkin status/wall baru, chating, ganti foto, bales chatting, ganti foto lagi, bikin balesan status, begitu-begitu aja jadinya dan waktu habis tersita buat FB doang, ckckckck.
Oleh karena itu, saya ingin prioritaskan blog ini menjadi rutinitas disamping cuma FB-FB-an doang yang menyita waktu hanya untuk narsis-narsisan( narsis boleh tapi jangan sering-sering ntar jadi Narsisco Ramos lagi,siapa tuh??..hhe). Di masa yang akan datang, saya berharap semoga blog ini bisa bermanfaat bagi semua orang dan menjadi blog yang paling di gemari di seluruh dunia ( :p...lebaiii euy..). Intinya sih blog ini selain saya isi dengan opini-opini saya, juga saya isi artikel-artikel atau info-info yang berguna bagi teman-teman gituu. Doakan semoga cita-cita ini tercapai kawan...Amien
Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia
SEJARAH PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA
Penelusuran perkembangan bahasa Indonesia bisa dimulai dari pengamatan beberapa inskripsi (batu bertulis) atau prasasti yang merupakan bukti sejarah keberadaan bahasa Melayu di kepulauan Nusantara. Prasasti-prasasti itu mengungkapkan sesuatu yang menggunakan bahasa Melayu, atau setidak-tidaknya nenek moyang bahasa Melayu. Nama-nama prasasti adalah:
(1) Kedukan Bukit (683 Masehi),
(2) Talang Tuwo (684 Masehi),
(3)
(4) Karang Brahi (686 Masehi),
(5) Gandasuli (832 Masehi),
(6)
(7) Pagaruyung (1356) (Abas, 1987: 24)
Prasasti-prasasti itu memuat tulisan Melayu Kuno yang bahasanya merupakan campuran antara bahasa Melayu Kuno dan bahasa Sanskerta.
- Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di tepi Sungai Tatang di Sumatera Sedlatan, yang bertahun 683 Masehi atau 605 Saka ini dianggap prasasti yang paling tua, yang memuat nama Sriwijaya.
- Prasasti Talang Tuwo, bertahun 684 Masehi atau 606 Saka, menjelaskan tentang konstruksi bangunan Taman Srikestra yang dibangun atas perintas Hyang Sri-Jayanaca sebagai lambang keselamatan raja dan kemakmuran negeri. Prasasti ini juga memuat berbagai mantra suci dan berbagai doa untuk keselamatn raja.
- Prasasti Kota Kapur di Pulau Bangsa dan prasasti Karang Brahi di Kambi, keduanya bertahun 686 Masehi atau 608 Saka, isinya hampir sama, yaitu permohonan kepada Yang Maha Kuasa untuk keselamatan kerajaan Sriwijaya, agar menghukum para penghianat dan orang-orang yang memberontak kedaulatan raja. Juga berisi permohonan keselamatan bagi mereka yang patuh, taat, dan setia kepada raja Sriwijaya.
Jika berbagai prasasti tersebut bertahun pada zaman Sriwijaya, bisa disimpulka bahwa bahasa Melayu Kuno pada zaman itu telah berperan sedbagai lingua franca. Atau, ada kemungkinan sebagai bahasa resmi pada zaman Sriwijaya. Kesimpulan ini diperkiat oleh keterangan I Tsing tentang bahasa itu bahwa bersama dengan bahasa Sanskerta, bahasa Melayu (diistilahkan Kw’en Lun) memegang peranan penting di dalam kehidupan politik dan keagamaan di negara itu (Sriwijaya).
Selain berbagai prasasti tersebut, terdapat pula beberapa catatan yang bisa dijadikan sumber informasi tentang asal-usul bahasa Melayu. Sejarah kuno negeri Cina turut membuktikan tentang keberadaan bahasa Melayu tersebut. Pada awal masa penyebaran agama Kristen, pengembara-pengembara Cina yang berkunjung ke Kepulauan Nusantara menjumpai adanya berbagai lingua franca yang mereka namai Kw’en Lun di Asia Tenggara. Salah satu di antara Kw’en Lun itu oleh I Tsing diidentifikasi di dalam Chronicle-nya sebagai bahasa Melayu.
Untuk keperluan perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, Traktat London (Perjanjian London) 1824 antara pemerintah Inggris dan Belanda merupakan tonggak sejarah yang sangat penting. Sebab, pada traktat itu antara lain berisi kesepakatan pembagian dua wilayah, yaitu:
(1) Semenanjung Melayu dan Singapura besera pulau-pulau kecilnya menjadi kekuasaan kolonial Inggris; dan
(2) Kepulauan Nusantara (Kepulauan Sunda besar: pulau-pulau Sumatera, Jawa, sebagian Borneo/kalimantan, dan Sulawesi; Kepulauan Sunda kecil: pulau-pulau Bali, LOmbok, Flores, Sumbawa, Sumba, sebagian
Oleh karena itu, perkembangan bahasa Melayu ini dapat dikelompokkan menjadi dua periode, yaitu (1) periode sebelumm Traktat London, dan (2) periode setelah Traktat London.
Perkembangan bahasa Melayu sebelum Traktat London
Perkembangan bahasa Melayu sebelum Traktat London ini dapat disistematisasikan ke dlam beberapa era, sub-era, dan periode seperti berikut:
1) Era Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7 sampai dengan abad ke-11 Masehi)
2) Era Kerajaan-keraan Melayu (abar ke-12 sampai dengan abad ke-19 Masehi):
a) Sub-era Kerajaan Melayu Bintan-Tumasik (abad ke-12 sampai dengan abad ke-13 Masehi)
b) Sub-era Kerajaan Meayu Riau (abad ke-14 sampai dengan abad ke-19 Masehi):
(1) Periode Kerajaan Malaka (abad ke-14 sampai dengan abad ke-15 Masehi)
(2) Periode Kerajaan Johor (abad ke-16 sampai dengan abad ke-17 Masehi)
(3) Periode Kerajaan Riau-Lingga (abad ke-18 sampai dengan abad-19 Masehi)
3) Era Pemisahan Tahun 1824
Perkembangan bahasa Melayu sebagaimana disitematisasikan tersebut sangat berkaitan dengan perkembangan bahasa Melayu pasca Traktat London 1824, karena bahasa Melayu berkembanga menjadi tiga arah, yaitu:
(a) di Indonesia menjadi Bahasa Indonesia;
(b) di Malaysia menjadi BahasaMalaysia;
(c) si
(d) di Singapura menjadi Bahasa Nasional.
Era Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7 sampai dengan abad ke-11 Masehi)
Sebagai kerajaan maritim, Sriwijaya mengalami masa kejayaan relatif cepat oleh lokasinya yang sangat strategis pada Selat Malaka, suatu pusat perdagangan yang penting selama berabad-abad lamanya.
Dengan demikian, Kerajaan Sriwijaya merupakan pusat kegiatan hajat manusia dan pusat administrasi kerajaan dan daerah-daerah taklukannya. Sriwijaya juga merupakan pusat pendidikan, kebudayaan, dan keagamaan. Abas (1987) mengulangi apa yang pernah ditulis oleh Gregoris F. Zaide, se
orang ahli sejarah Filipina terkemuka, mengenai kejayaan Kerajaan Sriwijaya pada era itu:
The Empire of Sriwijaya (Sri-Vishaya) emerged from the ashes of the maritime colonialism of Pallawa from 8th ventury to 1377 AD. Founded by Hindunized Malays, it was basucally Malayan in might, Hindunistic in culture, and Buddhistic in religion. The empire was so named after the capital, Sri-Vishaya,
Menurut Mees (1954) Sriwijaya mendirikan suatu perguruam tinggi Buddha yang mahasiswanya datang dari semua penjuru kawasan yang dikuasainya. Beberapa dari mahasiswa bahka datang dari kerajaan-kerajaan tetangga Champa dan Kamboja. Bahasa pengantar pada perguruan tinggi itu dan pusat-pusat pendidikan lainnya adalah bahasa melayu kuno atau lingua franca Kw’en Lun.
Era Kerajaan-keraan Melayu (abar ke-12 sampai dengan abad ke-19 Masehi):
Pemakaian bahasa Melayu yang dipengaruhi bahasa Sansekerta telah mendominasi Kerajaan Sriwijaya. Hal ini jelas terlihat pada berbagai inskripsi batu bertulis yang ditemukan pada berbagai tempat di
Era ini dapat dibagi menjadi dua sub-era, yaitu sub-era Kerajan Bintan dan Tumasik, dan sub-era Kerajaan Melayu Riau. Selanjutnya, sub-era Kerajaan Melayu Riau ini dibagi lagi menjadi tiga periode, yaitu periode Kerajaan Malaka, periode Kerajaan Johor, dan periode Kerajaan Riau dan Lingga. Sekali lagi, pembagian menjadi periode-periode ini sangat penting karena berkaitan dengan perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa
Pada era Kerajaan-kerjaan Melayu ini, penyebaran bahasa Melayu mengalami perkembangan yang sangat pesat. Kedatangan orang-orang Eropa yang ikut mempergunakana bahasa Melayu sebagai lingua franca tidak hanya menmbantu penyebaran bahasa itu secara ekstensif melainkan juga menaikkan statusnya sebagai bahasa yang memiliki “norma supraetnik”, melebihi norma etnik bahasa-bahasa daerah lainnya yang ada di Kepulauan Nusantara.
Pigafetta yang mendampingi Magelhaens di dalam pelayarannya yang pertama mengelilingi dunia, misalnya, berhasil menyusun glosari pertama bahasa Melayu ketika kapalnya berlabuh di Tidore tahun 1521 Masehi. Glosari Pigafetta yang sederhana ini menunjukkan bahwa bahasa Melayu yang berasal dari
Pada tahun 1581, Jan Huygen van Linschoten, seorang pelaut Belanda yang berlayar ke Indonesia, menulisa di dalam bukunya Itinerarium Schipvaert naar Oost ofte Portugaels Indiens bahwa bahasa Melayu adalah bahasa yang dipergunakan oleh banyak orang timur, dan bahwa barang siapa yang tidak mengerti bahasa itu akan berada dalam keadaan seperti orang Belanda (dari zaman yang sama) yang tidak mengerti bahasa Perancis. (Alisjahbana dalam Fishman, 1974: 393).
Pada akhir abad ke-17, sewaktu Francois Valentyn di Malaka, ia telah menulis buku berjudul Oud en Nievw Oostindien II
“Bahasa mereka, yaitu bahasa Melayu … bukan saja digunakan di pantai-pantai Tanah Melayu, melainkan juga di seluruh
Sub-era Kerajaan Melayu Bintan-Tumasik (abad ke-12 sampai dengan abad ke-13 Masehi)
Segera setelah Kerajaan Bintan didirikan di Pulau Bintan keadaan memaksa raja memindahkan ibu
Diperkirakan bahwa perpindahan pusat kekuasaan itu terjadi antara tahun 1100 Masehi sampai dengan tahun 1250 Masehi. Sayang sekali tak ada catatan tertulis yang dapat dijadikan sumber acuan mengenai peran bahasa Melaytu selama sub-era Bintan-Tumasik ini. Jadi, apakah bahasa Melayu yang dipergunakan pada sub-era ini ada hubungannya dengan bahasa Melayu pada era Kerajaan Sriwijaya tidak dapat diketahui dengan pasti.
Banyak ahli bahasa dan orinentalis menganggap bahwa bahasa Medlayu era Kerajaan Sriwijaya adalah semacam bahasa Melayu kuno seperti yang ditunjukkan oleh berbagai inskripsi batu bertulis abad ke-7 Masehi. Junus (1969) bersikap agak ragu tentang hubungan antara bahasa Melayu kuno dengan bahasa Melayu Riau. Tetapi, dengan adanya bahasa Melayu Bintan-Tumasik yang merupakan suatu bentuk bahasa peralihan antara kedua bahasa itu, maka keraguan Junus hilang dengan sendirinya. Lebih-lebih apabila diingat asumsi yang mengatakan bahwa suatu bahasa kini merupakan perkembangan bahasa masa lampau. Dengan demikian, asumsi bahwa ada hubungan antara bahasa Melayu kuno dan bahasa Melayu era Kerajaan Sriwijaya benar adanya.
Sub-era Kerajaan Meayu Riau (abad ke-14 sampai dengan abad ke-19 Masehi)
Untuk pembahasan ini kiranya perlu dibedakan dengan jelas antara bahasa Melayu era Kerajaan Sriwijaya dan bahasa Melayu dari sub-era Keraan Riau. Seperti disinggung sebelumnya bahwa bahasa Melayu era Kerajaan Sriwijaya sangat dipengaruhi oleh bahasa Sansekerta. Karena sifat kekunoannya itu, banyak ahli bahasa menyebut bahasa pada era Kerajaan Sriwijaya itu sebagai bahasa Melayu Kuno. Sementara itu, bahasa Melatu pada sub-era Kerajaan Riau atau Kerajaan Melayu Riau sama sekali tidak sipengaruhi oleh bahasa Sansekerta dan memiliki ciri khas tersendiri, yaitu Riau. Oleh sebab itu, bahasa ini disebut “bahasa-bahasa Melayu Riau”. Terdapat tiga periode dalam sub-era ini, seperti diuraikan berikut ini.
- Periode Kerajaan Malaka (abad ke-14 sampai dengan abad ke-15 Masehi)
Seperti telah dikatakan sebelumnya, tentara kerajaan Majapahit menyerang Kerajaan Tumasik yang memaksa pusat kekuasaannya dipindahkan ke Malaka di Semenanjung
Kerajaan Malaka berkibar selama hampir 100 tahun. Lokasinya yang berada di pintu gerbang Selat Malaka, yaitu rute lalu lintas pelayaran yang ramai dan penting yang menghubungkan antara Asia Timur dan Asia Barat, antara Asia Timur dan Eropa, antara Samudra India dan Laut Cina Selatan, dan antara Samudra India dan Samudara Pasifik, Malaka merupakan pelabuhan yang paling sibuk di kawasan Asia Yenggara pada waktu itu.
Pada peralihan abad ke-15, Malaka juga menjadi pusat penyebaran agama Islam. Menjelmanya
“Perlak and Pasai in
Dengan demikian, Malaka menjadi pusat dua kegiatan, yaitu perkembangan dan penyebaran bahasa Melayu, dan penyebaran ajaran agama Islam. Sebenarnya, kedua kegiatan ini terlaksana secara bersamaan, sebab para guru dan penganjur agama Islam, dalam melaksanakan misinya itu, mengikuti perjalanan para pelaut dan pedagang, mempergunakan bahasa Melayu.
Pada tahun 1511, misionaris Portugis menyerang dan menaklukkan Malaka yang memaksa dipindahkannya pusat kedua kegiatan tersebut. Pusat perkembangan dan penyebaran bahasa Melayu, dan penyebaran ajaran agama Islam pindah ke Johor.
Meskipun Malaka dijadikan oleh Portugis sebagai pusat penyebaran agama Kristen, namun peran sebagai pusat pengembangan dan penyebaran bahasa Melayu tetap berlangsung. Berkat orang Portugis, penggunaan bahasa Melayu tidak terbatas hanya di kawasan Asia Tenggara saja, melainkan meluas ke pusat-pusat perdagangan di
Bahasa Melayu merambah jalannya juga ke benua Eropa dalam abad ke-16. Karena bahasa Malayulah yang dipergunakan oleh para raja atau pangeran Malayu ketika berkomunikasi dengan raja Portugis. Pada waktu yang sama, St. Francis Xavier mempergunakan bahasa Melayu untuk mengajak penduduk Maluku memeluk agama Kristen. Xavier sendiri mengatakan bahwa bahasa Melayu merupakan bahasa yang dimengerti oleh hampir setiap orang.
- Periode Kerajaan Johor (abad ke-16 sampai dengan abad ke-17 Masehi)
Dengan ditaklukkannya Malaka oleh Portugis pada tahun 1511, kegiatan kerajaan itu dipindahkan ke Johor, suatu daerah di sebelah selatan Malaka di Semenanjung
Meskipun demikian, periode Kerajaan Johor telah menyumbangkan sesuatu yang amat berharga, yaitu mempertahankan bentuk bahasa Melayu Malaka. Di Malaka, nama bahasa Melayu Malaka masih tetap dipergunakan, tetapi unsur-unsur bahasa Portugis banyak ditambahkan ke dalam bahasa tersebut sehingga pantas disebut “bahasa pidgin”. Bahasa Melayu Malaka sebelum penaklukan Portugis sangat berbeda dengan bahasa Melayu Malaka setelah Malaka dikuasai Portugis. Bahasa Malayu Johorlah yang mempertahaknkan ciri-ciri khas bahasa Melayu Malaka sebelum penaklukan Portugis.
Bahasa Melayu Johor memegang peran penting di dalam penyebarluasan agama Islam ke bagian timur Kepulauan Nusantara. Kesusastraan Melayu dari abad ke-16, dan bahkan sampai abadke-17, sangat dipengaruhi oleh ajaran dan pemikiran Islam. Bahasa Melayu Johor sangat berjasa di dalam penyebaran ajaran agama Islam di Kepulauan Nusantara, bahkan di kawasan Asia Tenggara.
- Periode Kerajaan Riau-Lingga (abad ke-18 sampai dengan abad-19 Masehi)
Pada tahun 1719 Raja Kecil, dari Istana Kerajaan Johor, dipaksa memindahkan pusat kekuasaannya ke Ulu Riau, di Pulau Bintan, salah satu pulau yang bergabung dalam Kepulauan Riau. Pemindahan ini merupakan permulaan dari suatu periode dalam pengembangan dan penyebaran bahasa Melayu, yaitu periode Kerjaan Riau dan Lingga. Dalamperiode inilah bahasa Melayu memperoleh ciri ke-Riau-annya, dan bahasa Melayu Riau inilah yang merupakan cikal bakal bahasa Nasional Indonesia yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
Periode Kerajaan Riau dan Lingga tercatat mulai tahun 1719, ketika didirikan oleh Raja Kecil, sampai dengan tahun 1913, ketika kerajaan itu dihapus oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Selama keberadaan kerajaan ini hampir 200 tahun lamanya, ada tiga momentum yang penting sekali bagi perkembangan dan persebaran bahasa Melayu Riau, yaitu tahun 1808, ketika Raja Ali Haji lahir; tahun 1857, ketika Raja Ali Haji menyelesaikan bukunya yang berjudul Bustanul Katibin, suatu tatabahasa normatif bahasa Melayu Riau; dan tahun 1894, ketika percetakan Mathba’atul Riauwiyah atau Mathba’atul Ahmadiyah didirikan.
Pengoperasian percetakan Mathba’atul Riauwiyah ini sangat penting karena melalui buku-buku dan pamflet-pamflet yang diterbitkannya, bahasa Melayu Riau tersebar ke daerah lain di Kepulauan Nusantara. Yang lebih penting adalah usaha pembakuan bahasa Melayu Riau sudah dimulai.
Selama perang antara Perancis dan Inggris yang berlangsung di Eropa, yang berakibat Negeri Belanda sempat diduduki Perancis beberapa tahun, selama itu terjadi pula perang antara kekuasaan Inggris di Asia Tenggara dan kekuasaan Belanda yang tunduk kepada {emerintah Perancis di Kepulauan Nusantara.
Untuk beberapa tahun lamanya, 1819 – 1824, Pulau Jawa dan Pulau
Orang-orang Blanda datanga pertama kali ke
Di sinilah, Selat Malaka, di daratan Semenanjung Malaya, kekuasaan kolonial Inggris semakin mencekamkan kukunya. Setelah jatuh ke tangan Portugis, daerah Malaka ini semakin penting perannya sebagai pusat perdagangan. Tertarik oleh kekayaan yang melimpah yang dipersembahkan oleh daerah ini kepada raja Portugis, perusahaan British Est India, yang pada saat itu masih beroperasi di anak benua India, mulai meluaskan daerah perdagangannya ke Asia Tenggara. Segeralah muncul konflik kepentingan di antara ketiga kekuasaab kolonial: Inggris, Beanda, dan Portugis.
Dari sudut pengembangan dan penyebaran bahasa Melayu, konflik antara Inggrs dan Belanda sangat penting, karena konfrontasi antarakedua kekuasaan itu berakhir pada pembagian kawasan Kepulauan Nusantara menjadi dua, berdasarkan variasi bahasa Melayu yang dipergunakan di kawasan itu, yaitu bahasa Melayu Johor dan bahasa Melayu Riau.
Pada 2 Februari 1819, kuran lebih tiga abad setelah orang-orang Eropa tiba di Kepulauan Indonesia, Stamford Raffles, ketika dia menjadi Letnan Gubernur Jenderal di Bengkulu, atas nama pemerintah kolonial Inggris mendirikan kota Singapura pada salah satu pulau (Tumasik) yang bergabung dalamKepulauan FRiau. Setelah benteng Singapura ini didirikan, Inggris dan Belanda berada dalam konflik bersenjata terus-menerus karena berebut kepentingan. Segera setelah perang Napoleon di Eropa mereda, pada tahun 1824 ditandatangani persetujuan untuk mengakhiri konflik bersenjata antara Inggris dan Belanda di Asia Tenggara. Persetujuan itu terkenal dengan nama
Bahasa Melayu Riau yang merupakan bahasa ibu penduduk Kerajaan Riau dan Lingga dan pulau-pulau di sekitarnya, berkembang dan menyebar dengan sangat pesat, sesuai dengan keperluan masyarakat yang bersangkutan sebagai alat komunikasi lisan. Bahkan, sejak berlakuknya Persetujuan
Publikasi karya Raja Ali Haji dan pengarang lain dapat dianggap sebagai upaya awal dalam proses pembakuan bahasa Melayu Riau. Bahkan, pada permulaan abad ke-20 karya-karya ini dijadikan buku acuan oleh ahli-ahli bahasa Belanda. Bahasa Melayu Riau yang sedang berkembang pesat dan tumbuh dengan sehat ini oleh banyak ahli bahasa disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi.
Perkembangan Bahasa Melayu Sebelum Traktat
Sesudah Traktat London ditandatangani antara pemerintah Inggris dan Belanda, pemisahan antara Bahasa Melayu versi Riau dan Johor semakin nyata. Bahasa Melayu versi Johor di Semenanjung
Bahasa Melayu Riau mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini disebabkan oleh masyarakat pribumi yang bersifat multi-etnik yang mempunyai bahasa daerah sendiri-sendiri. Di samping itu, bahasa Melayu yang sejak dulu menjadi lingua franca meningkat statusnya menjadi bahasa yang memiliki norma supra-etnik dikuasai oleh hampir semua orang yang suka berlayar atau bepergian ke mana-mana.
Beberapa peristiwa penting menyangkut perkembangan bahasa Melayu Riau dapat diungkapkan di bawah ini.
1. Tahun 1865 bahasa Melayu Riau diangkat oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda sebagai bahasa resmi kedua mendampingi bahasa Belanda. Pranan ke-lingua
2. Tahun 1901 Charles van Ophuijsen menerbitkan bukunya yang berjudul Kitab logat Melajoe: Wondenlijst voor de Spelling der Maleische
3. Tahun 1918 bahasa Melayu mulai dipergunakan di dalam sidang-sidang Volksraad (Dewan Rakyat). Dengan demikian status bahasa Melayu meningkat menjadi bahasa supraetnik melebihi bahasa-bahasa daerah lainnya.
4. Tahun 1920 bahasa Melayu menjadi bahasa Balai Pustaka. Semua buku hasil penerbitan Balai Pusataka mempergunakan bahasa Melayu. Penyebaran bahasa Melayu ke pelosok Nusantara semakin intensif. Semua sekolah dasar di desa-desa mempergunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar. Di samping itu, bahasa Melayu juga menjadi bahasa para pejuang kemerdekaan
5. Pada tanggal 28 Oktober 1928 bahasa Melayu dijadikan oleh para peserta Kongres Pemoeda sebagai bahasa persatuan yang tertuang pada butir ketiga Soempah Pemoeda yang diikrarkannya.
6. Pada tahun 1933 bahasa Melayu menjadi bahasa Poedjangga Baroe sekelompok pegarang yang menerbitkan berbagai majalah dan buku.
7. Pada tahun 1938 Kongres bahasa Melayu (
8. Tahun 1942 – 1945 Kepulauan Nusantara diduduki oleh balatentara Jepang. Bahasa Melayu menjadi satu-satunya bahasa pengantar pada semua jenjang pendidikan.
9. Pada tanggal 17 Agustus 1945 proklamasi kemerdekaan
10. Tahun 1954 Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini dihadiri pula oleh utusan dari Semenanjung
11. Tahun 1972 antara Republik
12. Pada tanggal 16 Agustus 1972 diumumkan pemberlakuan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) di Indonesia dan di Malaysia. Kenyataan ini menjadikan bahasa Melayu sebagai norma supra-nasional.
13. Pada tanggal 30 Agustus 1975 diumumkan pula pemberlakukan tatacara pembentukan istilah di
14. Kongres Bahasa Indonesia III dan seterusnya diselenggarakan secara teratur setiap
15. Kerja sama kebahasaan antara Negara Kesatuan Republik
Perkembangan bahasa Melayu versi Johor di Semenanjung Melaya dan Singapura tidak sepesat dengan perkembangan bahasa Melayu versi Riau di Kepulauan Nusantara. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya politik bahasa yang dianut oleh Inggris. Pemerintah Kolonial Inggris mengakui adanya empat bahasa resmi, yaitu bahasa Melayu, bahasa Mandarin, bahasa Tamil, dan bahasa Inggris. Keempat bahasa itu dipergunakan sebagai bahasa pengantar pada lembaga-lembaga pendidikan. Umumnya, bahasa Inggris paling dominan dipergunakan sebagai bahasa pengantar.
Keadaan kebahasaan seperti digambarkan di atas berlangsung sampai dengan terbentuknya Negara Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1956. Peristiwa ini kemudian disusul dengan terbentuknya Negara Malaysia, yang mencakup Serawak dan Sabah (North Borneo), yang merdeka dan berdaulat, lepas dari kekuasaan Inggris. Setelah kemerdekaan dicapai, bahasa Melayu di negara tersebut mulai memerankan fungsinya sebagai bahasa resmi, bahasa negara, bahasa nasional, dan mengalami perkembangan yang cukup pesat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sampai saat ini bahasa Melayu, baik yang sekarang menjadi bahasa Indonesia di Indonesia, bahasa Melayu di Malaysia, bahasa … di Brunai, dan bahasa … di Singapura, tetap berkembang dan menjalankan fungsinya sebagai alat komunikasi secara efektif. Bahkan, secara de facto telah berperan sebagai bahasa komunikasi luas di Asia Tenggara. Yang diperlukan adalah pengakuan dari internasional (lewat PBB) bahwa bahasa Melayu merupakan salah satu bahasa yang layak dipakai sebagai bahasa komunikasi internasional atau dunia. Apabila harapan ini tercapai, berarti secara de jure bahasa Melayu semakin mantap.
Pustaka Acuan
Abas, Husen. 1987. Indonesian As a Unifying Language of Wider Communication: a Historical and Sociolinguistic Perspectives.Canberra:
Alisjahbana, Sutan Takdir. 1974. “Language Policy, Language Engineering and Literacy in
Fishamn, Joshuo A., ed. 1974. Advances in Language Planning.
Hamidy, U.U. 1973. Bahasa Melayu Riau: Sumbangan Bahasa Melayu Riau kepada Bahasa dan Bangsa
Junus, Umar. 1969. Sedjarah dan Perkembangan Kearah Bahasa Indonesia dan Bangsa
Joyonegoro, Wardiman. 1995. “Pidato Pembukaan KIP BOPA III”. 28 Agustus 1995.
Sumber :
http://muslich-m.blogspot.com/2007/04/sejarah-perkembangan-bahasa-indonesia.html